Kemarin aku ngobrol dengan salah satu teman. Dia ini pintar dan etos belajarnya tinggi, tapi sayangnya dia suka galauin hal yang menurutku gausah dipikirkan dulu diumurnya. Sebut saja namanya Butet. Butet curhat tentang cowo-cowo yang ngedeketin dia cuma untuk memanfaatkan dirinya aja,
katanya fisiknya yang salah dan masa lalunya yang buruk. Oh iya, aku lupa cerita kalau Butet ini memang terlihat kurang di fisiknya, ku dengar dari ceritanya bahkan ada salah satu orang yang langsung tanpa babibu mengatakan Butet itu gendut dan tidak enak dilihat. Tapi menurutku, walaupun begitu, Butet tetaplah cantik. Setiap perempuan cantik dijalannya masing-masing, ini sering kukatakan pada Butet tiap kali dia minder soal fisiknya.


“Ya kamu kan banyak yang naksir, Mba. Aku? Aku buat disukain tulus aja susah lho. Emang ya, setiap orang pasti ngelihatnya fisik terus.”
“Mba, jodoh ga akan ketuker. Nanti pasti ketemu. Sekarang belajar dulu, kalau kamu pinter, jalan buat sukses makin deket. Siapa yang gak mau sama perempuan pinter dan sukses? Setiap perempuan cantik dijalannya masing-masing.” Kataku.
Berkali-kali kubilang begitu ke Butet. Ya walaupun sometimes ngerasa kesel juga kenapa dia selalu menganggap dirinya itu salah dan paling jelek di dunia ini. Padahal yang sayang dan perhatian dengan Butet itu banyak sekali. Aku sebagai temannya, salah satunya. Mungkin, kalau dia pacaran, ga akan ada Butet yang sekarang. Perduli soal tugas, disiplin kuliahnya, karena apa? Waktunya habis dipake buat pacaran. Anggap aja itu benefit.
Karena itu, aku mau berbagi lewat postingan ini, ngebahas hal-hal yang selama ini kita anggep kekurangan. Sadar ga sih kalau kita ini lebih sering melihat kekurangan kita ketimbang kelebihan kita sendiri? Dan sadar ga orang lain bakal tau kekurangan kita karena kita selalu nyoba nutup-nutupin kekurangan kita tersebut. Maksudnya, ya ga perlu begitu. Enjoy aja. Jadikan itu sisi yang paling ngebantu, jangan jadikan kekurangan.
Pernah baca buku “Cacing dan Kotorannya”, didalemnya ada cerita soal pemilik rumah dan Biksu. Si pemilik rumah kecewa karena merasa rumahnya tidak sempurna. Ada satu batu bata yang terpasang terbalik. Bukan horizontal melainkan vertikal.
“Kalau memang terpasang seperti itu, apa rumahmu bisa ambruk? Kenapa menyesal?” tanya si Biksu.
“Tidak” jawabnya.
“Apa dengan satu bata yang terbalik itu rumahmu akan ditembus hujan, maling dan binatang liar?” tanyanya lagi.
“Tidak pernah”
“Apa dengan begitu juga orang-orang bilang rumahmu jelek?”
“Belum ada yang bilang begitu sampai sekarang”
“Nah, kalau begitu apa yang kamu khawatirkan?”
“Aku mau rumah yang sempurna konstruksinya. Satu kekurangan ini mengganggu pikiranku.”
“Sadarlah. Batu bata yang terbalik ini mungkin tidak indah bentuknya. Tapi lihatlah, posisinya memang seperti itu untuk menutupi bagian yang kosong di bagian tembok pojok ruangan. Kalau kamu memaksakan untuk ga masang batu itu ke posisi sekarang, bagian temboknya ga akan kuat. Kamu memilih rumah yang sempurna bentuknya namun tidak kuat atau memiki kekurang bentuk tapi tetap kokoh?” kata si Biksu.
Pemilik rumah cuma bisa terperangah dan menyadari apa yang dikatakan si Biksu adalah benar.
Itulah manusia, kadang hanya terlalu fokus pada apa yang disebut kekurangan, sampai akhirnya melupakan kelebihan yang ia punya. Aku jadi inget sama kejadian dulu, waktu dimana aku gak tahu harus kuliah dimana lagi setelah gagal SNMPTN. Gak punya duit. Gak sampai disitu, aku nyoba buat nyari beasiswa dan mengirimkan formnya sebanyak yang aku bisa. Terdengar mungkin biasa aja, tapi dimana aku ga hidup sendiri, pasti selalu ada orang yang judgemental. Nyebutin segala macem kekurangan biar aku mundur waktu itu.
“Mending kerja aja dulu, kalau udah dapet uang baru kuliah.” Kata si A.
“Aneh-aneh aja lagian masa bayar sendiri, duit darimana?” Kata si B.
Orang-orang yang bilang gitu sempat bikin aku mikir begitu. Apa iya ya? Kerja dulu kali ya. Duit darimana coba. Tapi, alhamdulilah akhirnya sadar. Ngapain terganggu sama yang begitu, usaha aja dulu. Belum juga mentok, udah nyerah aja. Akhirnya aku sempet lolos seleksi berkas di Paramadina University waktu itu, walaupun cuma sampai disitu, harus nerima “pait” karena gagal padahal tinggal one step closer lagi, yaitu di seleksi interview :D Tapi ga apa-apa, aku cukup bangga karena dari >400 orang, aku masuk kedalam 40 orang yang diberi kesempatan mencicipi rasanya deg-degan di interview. Terus belajar gimana caranya nulis essay didalam deadline. Di kesempatan lain, aku diterima beasiswa di Binus University, tapi sayangnya...bukan didalam jurusan yang aku mau dan aku minati. Jadi, aku terpaksa gak ambil. Gak tau ini namanya apa, tapi alasannya bukan cuma itu. Biaya hidup di Jakarta pasti 2 atau lebih kali lipat dari Medan(kebetulan, untuk living cost, beasiswanya ga nanggungin). Akhirnya aku ngurungin niatku.
Sampai pada akhirnya aku nganggur gatau mau ngapain di pertengahan Agustus. Semua Universitas yang menyediakan beasiswa sudah ditutup. Sempat mikir juga buat nganggur buat nyoba SBM/beasiswa lagi ditahun depan. Tapi, ada alasan lain lagi. Orang-orang disekitarku semakin judgemental.
Saat itu aku ga punya uang banyak buat daftar kuliah. Sekitar 2 juta sisa jualan karikatur di instagram(oh iya aku belum cerita, ku posting di postingan berbeda ya). Aku nyesel banget waktu itu kenapa ga kerja keras dari dulu-dulu. Buat daftar kuliah itu butuh duit yang banyak, Kikyyyyyy. Bismillah aja, nyari uang 2 minggu sebelum berangkat ke Jogja dan akhirnya: Ya, aku bisa sampai kesini. Ngebayar uang masuk kuliah pake duit sendiri. Mama, I made it! Karikaturku laku banget waktu itu. Sampe tidur 3 jam karena harus ngejar deadline, setiap jam promosi, bolak balik nyetak, bolak-balik nyetok frame dan bantal. Semacam ga percaya bisa dapet belasan juta di waktu sesempit itu. Memang, aku belum sukses. Tapi seenggaknya alhamdulilah aku bisa survive dan ga cuma diem nunggu duit datang entah darimana. Aku sadar, ternyata kekurangan dalam diri kita, gak selalu jadi kelemahan. Misal kemarin kalo aku ga bokek kayak gitu, mungkin aku bakal tetep jadi anak yang manja dan gatau harus nyari jalan keluar lewat mana, mungkin lewat rawa-rawa. Itulah yang justru kadang jadi malah menjadi kekuatan tersendiri yang membuat orang merasa kita lebih spesial.
Kembali ke soal Butet. Berbekal pengalaman itu, aku ngasih masukan ke Butet. Agar dia nggak pesimis lagi tentang keadaannya. Dia selalu pesimis dengan orang baru yang ditemuinya. Baik teman, yang dia taksir atau siapapun itu. Menurutnya orang yang fisiknya kurang ga akan punya teman atau ga akan punya pacar.
Kesimpulannya sih, jangan takut untuk terlihat tak sempurna didepan orang lain. Kekurang itulah yang membuat kita disebut manusia. Terlalu membuat kita “sempurna” itu hanya membuat kita jadi lupa gimana caranya hidup bahagia. Karena kebahagian itu ada sebab kita tampil apa adanya.
Nah, buat kalian yang masih minder dengan apapun itu yang kalian sebut kekurangan, coba liat kekurangan itu dari sudut yang berbeda. Apa itu memang kekurangan yang harus kita perbaiki, atau sebenernya adalah sebuah kelebihan yang membuat kita salah persepsi.


XOXO,
Kiky